Balada SPT


Masih hangat-hangatnya topik SPT, jadi ingin bercerita tentang ini. 

Hari-hari ini menjelang berakhirnya masa pelaporan SPT. Bagi yang belum tahu, SPT adalah Surat Pemberitahuan Tahunan yang berisikan perhitungan pajak atas penghasilan dalam setahun. SPT menjadi wajib dilaporkan, ketika kamu telah memiliki penghasilan minimal sesuai undang-undang pajak. Garis besarnya seperti itu, untuk informasi lebih lengkapnya, tidak akan dijelaskan di sini, karena blog ini bukan blog perpajakan 😃

Oiya, untuk yang sudah sukses melaporkan SPT, selamat ya! Telah menjadi warga negara yang taat pajak dan budiman, sukses buat semuanya! 😎

Kembali ke topik melaporkan, ternyata banyak teman-teman yang merasa tertegun ketika baru pertama kali melaporkan SPT. Jadi ceritanya adik-adik di bawah tingkatku ini (dilarang protes!) baru saja menapak kehidupan dewasa yang penuh tanggung jawab, dengan memiliki penghasilan sendiri. Salah satu konsekuensi dari dunia orang dewasa adalah bertanggung jawab atas pengelolaan penghasilan tersebut, termasuk di dalamnya melaporkan SPT.

Nah, tertegun itu adalah ketika tiba saatnya mengisi kolom harta dan hutang. Ketika ditanya apakah memiliki harta, tiba-tiba saja kenyataan pahit menghantam mereka. Lalu bertanyalah mereka, "Kalau motor atas nama papaku, apa harus disebutkan?" lalu ada juga pernyataan "Aku ada mobil tapi bukan atas namaku."  

"Tabungan, mungkin?" tanyaku.

"Hampir ga ada juga, gajiku cuma lewat aja dan pasti habis di akhir bulan."

Tiba-tiba ingatanku melayang ke beberapa tahun silam. Hahaha masalah klasik para pendatang baru 😁 Tapi aku tertawa dalam hati, untuk menjaga perasaan, tentu saja.

Dalam keheningan yang mencekam, aku bertanya lagi "Jadi gajimu dihabiskan buat apa? Pasti beli sesuatu kan?"

"Handphone!" jawabnya menyakinkan.

"Oke."

Kemudian langkah berikutnya mengisi kolom hutang. 

Dan ternyata tidak sesulit saat mengisi kolom harta 😆

TIdak tahan untuk bertanya, "Jadi hutang kartu kreditnya buat beli handphone saja ya?"

"Beli baju, sepatu, terus tas juga."

"Buat makan dan nongkrong."

"Kayaknya habis buat main saja deh. Yang gak penting-penting amat."

Lalu menambahkan, "Sayang ya, aku kerja setahun ternyata belum bisa dibilang punya harta. Yang ada malah cuma hutang."

"Yaaa...." tetiba sok bijak akan menasehati.

"Aku dulu juga begitu kok. Suka berasa paling kaya karena sudah punya penghasilan sendiri. Terus pingin punya kartu kredit. Ternyata rasanya seperti punya uang tambahan. Lalu akhirnya terbelit hutang kartu kredit deh." 

"Eh tapi jangan dicontoh ya!" sambungku.

"Tahun depan aku gak mau gini lagi deh. Mending uangnya di tabung lalu di pakai untuk investasi. Jadi tahun depan hartaku bertambah dan semoga hutangnya bisa berkurang." ucapnya bersungguh-sungguh.

"Beneran ya?! Aku ingetin tahun depan lo pas ngisi SPT lagi hahaha"

Terharu juga melihat mereka sadar sejak dini, tidak seperti diriku saat itu. 
Jadi ternyata selain untuk pemenuhan kewajiban perpajakan pribadi, melaporkan SPT juga bisa jadi tempat untuk evaluasi diri kita. Apakah sudah bijak dalam mengelola penghasilan? Apakah sudah mengoptimalkan peruntukannya?

Semoga tahun depan, rapor harta dan hutangnya sudah lebih baik ya 🙂🙂









.   

Komentar

Postingan Populer