Menuju bahagia

Panggilan kondektur telah terdengar dari pengeras suara. Merusak lamunanku saja. Entahlah, kali ini aku malas bermain dengan handphoneku. Kusimpan saja di tas. Bosan dengan feed-feed indah di instagram milik orang lain. Mungkin iri, karena feedku tidak seaduhai itu.
Panggilan kedua terdengar lagi. Ah, andai suaranya seempuk Afgan, pasti para penumpang berbondong-bondong mendekatinya. Minta tanda tangan dan selfie.
Dengan malas kuangkat tas ranselku dan bergegas. Kulirik sekali lagi barang bawaanku. Cuma satu, dan sudah kupakai.
Kupastikan lagi dengan bertanya, sudah benarkah ini jurusan busku. Si Mas bersuara pecah membalas dengan tidak sabar.
Mari kita mulai petualangan ini, ucapku dalam hati. Aku berdoa. Aku sungguh ingin segera sampai ke tujuan. Lelah mulai terasa, tapi apa boleh buat, perjalanan ini harus dilanjutkan. Sudah banyak yang menantiku di sana. Aku harap yang menantiku benar yang kunanti.
Bus mulai berjalan. Aku melambai. Entah pada siapa. Ingin saja, biar seperti yang lain. Ada yang mengantar dan mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak suka perpisahan, tapi aku ingin melambai. Itu saja.
Bus keluar dari terminal, memasuki kota. Pinggiran kota yang sibuk. Dimana-mana sama saja kurasa. Tempat persinggahan selalu ramai, tapi sesungguhnya sangat sepi. Karena disana ragamu hadir namun tidak hatimu. Hatimu ingin segera berangkat menuju tujuan. Seperti hatiku saat ini. Menuju bahagia.
Aku menyapa pohon-pohon yang berlalu. Lalu tiang listrik. Sapi yang sedang merumput.  Bebek-bebek yang sedang bermain air. Pak Tani yang sibuk dengan kerbaunya. Apakah kalian semua sudah di tujuan? Atau sedang singgah sejenak?
Kami menuju ke Barat. Bukan mencari kitab suci. Sialnya aku duduk di barisan depan. Sinar matahari sore menyeruak. Berusaha masuk ke balik kacamata hitamku. Aku tidak bisa bersembunyi lagi. Mungkin harus kucoba nikmati saja. Belum tentu besok aku bisa menghadap matahari. Karena besok aku sudah di Barat, dan tentu saja sudah tidak duduk di depan lagi.
Aku menoleh. Rupanya bocah ini pelakunya. Sedari tadi aku sudah merasa. Ada yang diam-diam memperhatikanku. Mengikuti gerak-gerikku. Kepo. Dia pikir aku tidak tahu. Padahal di balik kacamata ini aku melihat segalanya. Bahkan ketika aku menoleh, dia juga tidak segera memalingkan wajahnya. Entah dia tidak tahu, atau dia berani menantangku. Aku jadi keder. Kucoba menghiraukannya. Kembali aku mencoba tidur. Sambil mencoba menghiraukan si matahari sore.
Kemudian drama suami istri yang duduk di belakangku dimulai. Entah apa yang diributkan. Berisik sekali. Aku ingin menoleh tapi tidak berani. Semakin seru. Sepertinya membahas tentang siapa yang lebih pintar membuat kue bolu. Bahkan kudengar anaknya ikut menengahi.
Tapi sepertinya tidak ada yang merasa terganggu. Kecuali aku. Mungkin fakta bahwa aku sendirian di bus ini, membuatku jadi sedikit kurang kerjaan. Kurang teman. Sehingga aku mendramatisir keadaan disekelilingku. Rasanya aku ingin ikut nimbrung dan menuntut disediakan tester kue bolu, sehingga aku bisa punya andil untuk ikut menilai. Dan bisa memutuskan siapa yang menang.
Tiba-tiba para penumpang berseru. Protes. Aku terbangun. Kaget. Rupanya sedari tadi bus masih belum berangkat.

Komentar

  1. Ini kali pertamaku ikutan tantangan storial.co dalam #nuliskilat. Menarik banget karena kita dikasih tema dan batasan waktu hanya 7 jam untuk mengirimkan cerita. Kali lain pasti mau ikut lagi. Kalo kamu tertarik juga, yuk ikutan, langsung saja ke IG @storialco ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Jangan ragu, komen aja :)

Postingan Populer