Sudah bangga


“Ini kalung Ibuku.” Dia membuka percakapan.

Aku tidak tahu harus menanggapi apa. Aku diam, mendengarkan,

“Kalung yang kubelikan, karena beliau memintanya. Cuma sekali itu Ibu meminta sesuatu padaku.”

Ku usap bahunya. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi.

“Tapi sekarang kalung ini kembali kepadaku. Ibu tidak bisa memakainya lagi. Tidak ada yang bisa dibawa Ibu ke sana.”

Kami berdua diam, menerawang.

“Kalau kamu kangen, kirim Al-Fatihah. Kalungnya buat kenang-kenangan. Yakin deh, Ibu sudah bangga sama kamu.”

“Amin, semoga ya...”


Komentar

Postingan Populer